TERHENTI TAPI TIDAK MATI

Superioritas tuan rumah Thailand dicabang futsal kembali kita rasakan. Pada gelaran AFC U-20 di Bangkok Arena, Ardiansyah Runtuboy dkk kembali harus mengakui para punggawa Gajah Putih dibabak perempat final.

Sekali lagi gw ga tertarik membicarakan bagaimana proses pertandingan, gw hanya melihat apa saja yang bisa kita petik sebagai insan futsal di tanah air.

Pantang Menyerah mungkin 2 kata yang layak kita sematkan selain Luar Biasa untuk perjuangan Garuda Muda, bagaimana tidak hampir seluruh pertandingan yang mereka lakoni dari babak penyisihan grup mereka selalu pernah merasakan pada posisi tertinggal dari tim lawan.

Pertandingan pertama kita menyaksikan ciamiknya seorang Nasrul menggagalkan 4 pinalty Tajikistan, pertandingan kedua kita melihat Syauqi Saud Lubis si Anak Medan mencetak 4 gol dalam satu pertandingan. Partai ketiga dan keempat kita disuguhkan mentalitas Garuda Muda menghadapi situasi tertekan dan di eksekusi manis menggunakan strategi powerplay yang dipicu oleh seorang Bocah Ajaib asal Papua, Ardiansyah Runtuboy dan diakhiri dengan sontekan gemilang sang teman sekamar, Samuel Eko Putra pemain kebanggaan asal Borneo. Para pelatih dan official yang hadir di Bangkok tanpa sang nakhoda Vic Hermans selalu total bekerja dari Yori Van de Torren serta semua staff dan official yang berjuang disektor non teknis lainnya.

Tangisan pecah selepas wasit meniup peluit akhir pertandingan,Runtuboy serta sang kapten Anton para pemain garang dilapangan tak kuasa menahan air mata yang memaksa keluar mengikuti rasa kecewa mereka atas hasil akhir.

Kami di tanah air menangis, bukan karena kalian tidak memenangkan pertandingan. Tapi kami yang menangis disini merasakan apa yang kalian perjuangkan disana. Sedikit pun kalian tidak mengecewakan. Ingat kalian adalah tim futsal pertama Indonesia yang bisa membawa nama Indonesia sejauh ini di ajang level Asia.

Langkah kalian mungkin terhenti, tapi tidak sampai mati.

Lalu apa sekarang yang harus kita lakukan.

Futsal Indonesia berbenahlah, yang pertama gelar kompetisi dengan durasi panjang sekitar 8 bulan. Masalah finansial bisa di minimalisir dengan hanya menggelar pertandingan di pulau Jawa saja. Karena jika harus menyebrang luar Jawa maka biaya pun akan sangat banyak. Itu bisa terlihat dari banyaknya tim peserta liga yang memilih homebase di Jakarta, Bandung dan Jogja. Jika hanya digelar di pulau Jawa setiap tim bisa hemat dengan memiliki bus masing-masing sehingga bisa menuju dari satu kota ke kota lain menggunakan bus yang mereka miliki atau minimal menggunakan kereta api yang lebih ekonomis. Futsal luar Jawa tetap dapat melihat jalannya kompetisi dmelalui televisi.

Buatlah kompetisi level U20 dengan system liga layaknya senior team. Buat liga terse but di satu kota saja sebagai kota penyelenggara agar jauh lebih hemat. Sehingga semakin banyak potensi pemain muda terlihat dari sebuah kompetisi yang bergulir setiap sabtu dan minggu.

Manfaatkan media dengan baik, mumpung Bapak Harry Tanoe sebagai ke Federasi Futsal Indonesia sangat peduli dengan futsal dan beliau punya MNC Group sebagai perusahaan media yang besar di Indonesia. Buatlah highlight pertadingan, tips bermain futsal, wawancara pemain, pelatih serta pemilik klub sehingga mereka semakin dikenal dan menarik pihak sponsor untuk investasi pada sebuah klub futsal.

Dan satu lagi harapan gw terkait timnas U20 yang berlaga di AFC U20, berikan mereka jam terbang dengan mewakili Indonesia dibeberapa event internasional seperti Sea Games, Asian Indoor Games agar memiliki jam terbang tinggi. Jika diperlukan, selipkan 3-4 pemain senior untuk mengawal mereka disetiap kejuaraan yang diikuti.

Semoga saja…

SEDERHANANYA GARUDA MUDA

4 pertandingan di fase grup sudah dijalani Al Bagir dkk. Garuda Muda mengoleksi 2 kemenangan atas Tajikistan dan China Taipei serta 2 kali hasil imbang dari Vietnam dan Jepang mengantarkan Garuda Muda menjadi tim futsal Indonesia pertama yang melaju (sementara ini) sampai babak 8 besar Asia.

Gw ga tertarik bicara skor kemenangan, gw lebih tertarik bicara bagaimana Garuda Muda ini harus dijaga untuk mampu menjadi aset di masa depan bagi futsal Indonesia.

Dipilih melalui status mereka sebagai pemain profesional di kompetisi kasta tertinggi futsal Indonesia, Vic Hermans yang merupakan pelatih kepala timnas futsal Indonesia mengklasifikasikan pemain pada posisi dan kaki terkuat yang mereka miliki. Vic Hermans sadar betul bahwa kenyamanan pemain dalam bermain adalah kunci sukses seorang pemain nantinya yang akan berimbas pada tim.

Karakter pemain Indonesia yang agresif dan cepat dimanfaatkan pelatih asal Belanda tersebut dalam hal transisi baik saat bertahan maupun menyerang melalui skema counter attack. Yang paling menarik adalah teknik dasar pemain Indonesia yang rata-rata tidak istimewa diakomodir dengan cara main sederhana. Selalu ada 2 pemain yang melakukan support saat siapa pun menguasai bola, pergerakan dinamis lebih dipilih daripada membuat sirkulasi bola yang cepat yang biasa diperagakan klub-klub Indonesia ada umumnya.

Ujicoba yang hanya melawan 2 klub asal Mataram menjelang keberangkatan dimaksimalkan secara baik oleh seluruh staff pelatih Garuda Muda. Straegi powerplay yang menjadi kunci di 2 pertandingan terakhir buah hasil latihan terakhir saat melihat strategi powerplay belum berjalan disaat ujicoba.

Pada akhirnya cara berfikir seorang Vic Hermans mengubah perspektif gw sebagai seorang pelatih. Tidak perlu gengsi untuk bertahan didaerah sendiri saat melawan Vietnam untuk meredam kecepatan mereka. Tapi juga jangan pernah takut mencoba sesuatu yang dianggap tidak lazim seperti powerplay karena itu adalah bagian dari sebuah strategi.

Sama halnya selera orang terhadap buah duren (sekalian promosi Sop Duren Donzol), banyak yang suka tapi ga jarang juga yang membenci. Tapi satu hal yang paling penting adalah kita belajar tidak hanya dari sesuatu yang kita suka tapi kita juga tahu banyak dari sesuatu yang kita benci.

Gw dan yakin seluruh pecinta futsal berharap kita mampu menembus babak 4 besar yang katanya akan menghantar Indonesia ke Piala Dunia Futsal Junior (ini gw belum dapat konfirmasi resmi sih).

Tapi yang terpenting adalah sekarang Vic Hermans tidak hanya mengubah sudut pandang seluruh pecinta dan praktisi futsal bagaimana cara bermain futsal yang efektif tapi gw juga berharap Vic Hermans bisa kembali meminta Federasi Futsal Indonesia untuk membuat kompetisi yang ideal selama 8 bulan. Itu akan sangat bermanfaat bagi semua elemen baik pelatih dan juga pemain yang memilih futsal sebagai jalan hidup mereka.

Bagi gw, timnas futsal itu seperti sebuah makanan. Para pemain adalah beras, sayur, daging, air, susu, buah. Vic Hermans adalah kokinya, dapurnya adalah sarana latihan & kompetisi yang berkualitas. Tanpa adanya kompetisi yang berkualitas dan sarana latihan yang memadai sulit bagi seorang pelatih mengolah pemain menjadi pemain berkualitas.

Untuk para pemain, bermainlah dengan bahagia, buat bangga keluarga dan orang-orang yang kalian sayangi serta bangsa ini dengan kedua kaki kalian. Jangan pikirkan PUJIAN saat kalian sedang berhasil karena sesungguhnya ada UJIAN dalam kata PUJIAN.

Dipuji jangan kalian melayang, jika (nanti) dicaci kalian ga perlu tumbang

TIDAK SABAR JUGA MANIS HASILNYA, ASALKAN …

Pepatah juga bisa salah, tidak semua masalah bisa selesai dengan kesabaran. Setidaknya itu ditunjukkan oleh sang jawara Liga Futsal Indonesia, Vamos Mataram.
Memiliki 8 pemain yang gagal total di AFF Futsal 2016 berimbas pada klub kebanggaan asal Nusa Tenggara Barat tersebut. Bagaimana mungkin klub yang dihuni mayoritas pemain timnas futsal Indonesia tersebut harus tersungkur dipartai pembuka melawan klub promosi Kancil BBK Pontianak.

Deny Handoyo yan notabene legenda futsal Indonesia tidak mampu mengecap rasa manisnya kemenangan di debutnya sebagai pelatih. Star Syndrome yang menghinggapi punggawa Vamos Mataram di putaran pertama hanya mampu mengantar mereka ke peringkat 3 klasemen grup B saat itu.

Panik dan ketidak sabaran manajemen Vamos Mataram melihat posisi diklasemen dan permainan yang tidak kunjung ciamik membuat mereka mengambil keputusan untuk mendegradasi sang nakhoda, Deny Handoyo menjadi assisten pelatih dan mengambil pelatih kepala asal Belanda keturunan Maroko, Hicham Benhamou bersama pemain Belanda lain, Khalid dan juga 1 pemain kidal asal Iran, Ali Abedin.

Debut Coach Hicham tak langsung mulus, ditahan imbang Kancil BBK dikandang sendiri tentu merupakan hasil imbang rasa kalah. Namun perlahan tapi pasti sang pelatih menunjukkan kualitasnya dipertandingan selanjutnya.

Disiplin dan motivasi tinggi adalah kunci keberhasilan Coach Hicham membuat Vamos berjaya tahun ini. Pelatih asal Belanda tersebut selalu memberikan reward bagi timnya jika mampu cleansheet disebuah pertandingan dengan mentraktir seluruh pemain dan official team lainyya makan malam.

Selain memotivasi pemain, Hicham juga membuat kaki kaki malas milik Syahidan Lubis, Bambang Bayu Saptaji dan pemain Vamos lainnya mau bekerja dengan baik. “Lombok, Lombok, Lombok !!! begitu coach Hicham berikan instruksi saat lawan menguasai bola, maksud teriakan Coach Hicham adalah para pemain memberikan tekanan kedepan pada lawan saat lawan menguasai bola.

2 kali tertinggal terlebih dahulu di semifinal dan final buah latihan keras yang membentuk fisik serta mental pemain Vamos dibabak 4 besar. Bahkan lapar kemenangan sudah dilakoni kakak kandung Mataram FC tersebut saat ujicoba melawan adiknya di GOR Turide Lombok yang kabarnya hampir terjadi keributan saat ujicoba berlangsung.

Strategi ampuh dipartai final menghadapi Permata Manokwari yang sudah lelah di partai semifinal melawan Bintang Timur Surabaya membuktikan canggihnya analisa juru latih asal Belanda tersebut. Matikan Rachmat Arsyad dan jangan beri ruang Fhandi Permana adalah kunci kemenangan dipartai final yang diamini oleh pelatih Permata, Arif Mou.

Kebesaran hati seorang Deni Handoyo juga patut diacungi jempol, sebagai legenda futsal Indonesia, Deny bisa saja memilih pergi dari Vamos saat coach Hicham datang. Tapi Deny sadar bahwa ini saat yang tepat belajar banyak dari pelatih Belanda tersebut. Saya sendiri berbicara pada Deni setelah mereka memastikan gelar juara di GOR UNY Yogyakarta minggu kemarin.

Ketidaksabaran manajemen Vamos berbuah manis, tapi itu semua terjadi karena seluruh elemen dari pelatih, pemain dan staff pelatih mempunyai energy positif untuk satu tujuan menjadi juara baru kasta tertinggi futsal Indonesia tersebut.

Mengutip apa yang Antonio Conte bilang, “Saya datang untuk memenangkan tiap pertandingan bukan untuk membuat semua pemain senang, karena saya berada di tim juara yang akan memenangkan setiap pertandingan yang kami mainkan.”

Selamat Vamos kalian layak karena kalian memang yang terbaik.